|
|
|
Menjelang 1 Syawal 1429 H Suara bedug telah bertalu. Takbir juga telah menggema. Padahal Magrib belum datang. Aku jadi ingat pengajian di TVRI habis subuh tadi. Seorang Dirjen di Depag yang sangat lucu dan medok, namanya kalo nggak keliru... menyebutkan aturan bertakbir. Pertama, takbir dilakukan setepas salat Magrib (sesuai sabda Rasul). Kedua, cukuplah takbir seperti biasa tidak usah dikasih bacaan macam2 seperti Kabiro walhamdukatsiro...sebab banyak orang membacanya keliru sehingga artinya jadi amburadul. Ketiga, jangan takbir menggangu fasilitas umum seperti menguasai jalanan, takbir di tengah jalan kecuali ada alternatif jalan. "Jalan itu buat orang lewat dan bukan buat orang duduk," ujarnya. Di Jakarta, takbir dilakukan seenak udelnya. Banyak yang menutup jalan. Bedug bertalu2 sesuka yang nabuh (anak2 kecil) dan takbir biasanya dilakukan selepas salat ashar. Bulan2 lalu, Pak Dirjen juga sempat debat dengan seorang narasumber soal azan dengan suara keras. Narasumber pertama kurang setuju dengan azan yang sangat keras, menghadapkan salon mikrofon ke luar masjid. Sedang Pak Dirjen justru menyatakan bahwa azan itu memang harus keras, asal sesuai waktunya. Aku sebetulnya setuju ama yang pertama. Lebih toleran bila azan itu sound systemnya diarahkan ke dalam masjid saja, tidak keluar. Tapi okelah setuju dengan Pak Dirjen juga tidak apa2, yaitu azan asal waktunya tepat. Misalnya azan ketika salat wajib sudah tiba waktunya. Di dekat rumahku lucu sekali. Ada azan yang terdengar setiap pukul 03.30 WIB. Aku tahu maksudnya bagus yaitu azan untuk membangunkan orang salat tahajud. Tapi dari mana syariatnya? Bukankah itu azan tidak sesuai waktu yang tepat? Bukankah itu cukup mengganggu? Rumahku sendiri dikelilingi oleh berbagai masjid. Setiap waktu salat, azan dari empat penjuru mata angin berkumandang. Aku tak tahu apakah mereka saling bersaingan keras2an? Memasang volume terkeras? Wallahu a'lam. (Jadi inget masjid kampusku dulu. Masjid kampusku dulu tidak sekeras ini kalau azan. Kurasa menghadapkan sound system ke dalam masjid adalah keputusan yang bijaksana). 30 September 2008 30 Ramadan 1429 H
|