|
|
|
Penyebar islam di Jawa Keturunan Cina Selesai subuhan aku menyetel tv. Begitu tv nyala, langsung RCTI. tv itu tak sedang menayangkan berita, melainkan feature tentang Walisongo (penyebar agama Islam di Jawa) yang ternyata mayoritas berdarah Cina. Karena ini adalah informasi yang baru kuketahui (sebelumnya aku mengira mereka keturunan Arab), akhirnya aku menonton acara itu sampai selesai. Presenter program setengah jam ini adalah Gustav Aulia. Gustav melakukan perjalanan ke makam-malam para wali dan mewawancarai sejumlah orang. Bahan liputan itu lebih berdasarkan pada naskah kuno dari kelenteng Sam Ko Kong Semarang. Tayangan itu menjelaskan silsilah para wali dan nama-nama Cina mereka. Karena ini adalah pengetahuan baru bagiku, aku pun menggoogle untuk mengetahui lebih pasti tayangan rcti tadi. Dengan kata kunci "walisongo, cina" dengan cepat keluar banyak artikel tentang itu. Oh, ternyata itu adalah isu lama. Sudah banyak yang mendiskusikannya. Tapi tak apa aku baru mengetahuinya sekarang ini ketimbang tidak sama sekali. Aku rasa rcti menulis bahan liputan itu juga dari google soalnya aku banyak menemukan ungkapan2 yang persis dengan yang dinarasikan rcti. Ternyata, gosip bahwa walisongo adalah orang Cina juga menjadi tanda tanya sejak zaman Belanda. Bahkan akhirnya ada bupati Belanda yang ditugaskan khusus untuk mencari benaran apakah penyebar agama Islam di Pulau Jawa itu adalah orang Cina. BUpati itu, Poortman, lantas mengambil naskah kuno dari Kelenteng Sam Po Kong pada 1928. Naskah itu sebanyak 3 pedati. Poortman lantas menulis kajiannya. Kajian itu lalu disitir oleh sejarahwan Indonesia yaitu Parlindungan. TUlisan PArlindungan dikaji lagi oleh Prof Slamet Muljana pada 1968. Namun buku Pak Slamet dilarang beredar oleh rezim Orba karena semua yang berbau Cina saat itu terlarang. Penyebabnya, negara Cina diduga terlibat G30S PKI. Sejarahwan ASvi Warman Adam menulis bahwa PAk Slamet menyimpulkan, Bong Swi Hoo-yang datang di Jawa tahun 1445-sama dengan Sunan Ampel. Bong Swi Hoo ini menikah dengan Ni Gede Manila yang merupakan anak Gan Eng Cu (mantan kapitan Cina di Manila yang dipindahkan ke Tuban sejak tahun 1423). Dari perkawinan ini lahir Bonang yang kemudian dikenal sebagai Sunan Bonang. Bonang diasuh Sunan Ampel bersama dengan Giri yang kemudian dikenal sebagai Sunan Giri. Putra Gan Eng Cu yang lain adalah Gan Si Cang yang menjadi kapitan Cina di Semarang. Tahun 1481 Gan Si Cang memimpin pembangunan Mesjid Demak dengan tukang-tukang kayu dari galangan kapal Semarang. Tiang penyangga masjid itu dibangun dengan model konstruksi tiang kapal yang terdiri dari kepingan-kepingan kayu yang tersusun rapi. Tiang itu dianggap lebih kuat menahan angin badai daripada tiang yang terbuat dari kayu yang utuh. Akhirnya Slamet menyimpulkan, Sunan Kali Jaga yang masa mudanya bernama Raden Said itu tak lain dari Gan Si Cang. Sedangkan Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah menurut Slamet Muljana adalah Toh A bo, putra Sultan Trenggana (memerintah di Demak tahun 1521-1546). Sementara itu Sunan Kudus atau Jafar Sidik yang tak lain dari Ja Tik Su. Intinya Pak Slamet menyebutkan: Sunan Ampel alias Bong Swie Ho Sunan Drajat alias Bong Tak Keng Sunan Bonang alias Bong Tak Ang Sunan Kalijaga alias Gan Si Cang Sunan Gunung Jati alias Du Anbo - Toh A Bo Sunan Kudus alias Zha Dexu - Ja Tik Su Sunan Giri adalah cucunya Bong Swie Ho Sunan Muria Maulana Malik Ibrahim alias Chen Yinghua/Tan Eng Hoat (satu lagi berarti bukan keturunan Cina) * Namun sumber lain menyebutkan bahwa mereka bukan orang/keturunan CIna, melainkan dari Kerajaan Champa. Champa terletak antara KAmboja dan Vietnam. Cina dan CHampa memang mirip. Saat ini Champa tidak memiliki negara. Champa menjadi suku minoritas di KAmboja dan Vietnam dan penduduknya mayoritas Islam.
|